Senin, 31 Juli 2017

DIKLATPIM IV ANGKATAN 132 KAB. KEDIRI



SAMBUTAN PESAN - KESAN
PENUTUPAN DIKLATPIM IV ANGKATAN 132 KAB. KEDIRI
JUMAT, 7 JULI 2017



Awal bulan Maret, itu artinya 4 bulan yang lalu, saat di panggil diklatpim, saya berpikir bahwa untuk beberapa bulan ke depan saya harus beberapa menyeberangi kali Brantas  dengan jasa penambangan dari Jongbiru ke Mrican arah SKB Grogol dengan tarif       Rp 2000 sekali seberang (tarif naik menjadi Rp 2500 saat lebaran). Itu dimaksudkan untuk memperpendek jarak tempuh perjalanan. Untuk beberapa hari saya memang melakukannya, sampai akhirnya demi  keselamatan diri seorang temanku menyarankan untuk mengambil jalan darat. Banyak jalan menuju SKB. Banyak jalan menuju roma, katanya. Dan benar adanya, tanpa menunggu lama saya benar-benar ketemu Pak Roma di kamar A2. Saya senang dan berbangga dapat berkenalan dengan Pak Roma yang hebat.

Jujur kukatakan, di awal-awal diklatpim saya merasa kecil berada di antara Bapak/Ibu peserta. Sama kecilnya dengan Kakak Pur, Pak Nur Salam dan Mbak Diyan. Kami berempat memang masuk golongan makhluk kecil, mungil .... tapi manis. Dan alhamdulillah bebarengan dengan itu saya pun merasa terlindungi berada di tengah-tengah para pembesar macam Mas Andri, Pak Eko dan Bu Astutik. Kalian adalah pembesar yang tahu kepentingan orang banyak. Terima kasih untuk itu.

Di awal-awal diklatpim kami banyak berinteraksi dengan Bapak Paso dan Profesor Kuncoro, dilanjut Pak Ismail dan Pak Chusaini. Suatu ketika berkesempatan pulang ke rumah, saya ditanya oleh istri bagaimana materi diklatnya dan siapa widya iswaranya. Saya jawab ," Materinya lumayan, dan WI nya adalah wong ganteng". Istri saya melongo, lantas berujar “Sejak kapan seorang pria boleh memuji ketampanan pria lain?!”. Saya tanggap, segera kuganti nama di kontak person HP yang semula wong ganteng menjadi ....wong gak ganteng. Maaf, ini semata demi kenyamanan hati istri semata.

Di kesempatan lain, saat pulang, saya ditanya hal yang sama oleh istri. Saya jawab," Materi diklatnya enak, menyenangkan & luar biasa". Nama WI nya ? Saya jawab “Widya siwaranya wong ayu Bu Esti”. Istri saya kembali melongo seperti tempo hari, bahkan lebih lebar. Lantas berujar “Sejak kapan seorang suami boleh memuji-muji kecantikan perempuan lain di depan istrerinya?”. Saya tanggap, segera kuganti nama di kontak person HP yang semula wong ayu menjadi ....beautiful woman. Gak masalah, toh istri saya tidak bisa bahasa inggris. Maaf ini semata-mata demi kenyamanan hati isteri semata. Jadi yang semula wong ganteng, diganti wong gak ganteng, dan wong ayu diganti beautiful woman. Saya rasa cukup adil.

Bicara tentang sesi acara diklatpim, maka sesi favorit kita adalah makan pagi, makan siang dan makan sore. Ruang makan bagi kami adalah ajang sosialisasi, saling kenal lebih dalam antar peserta. Bagi Mas Endra Purnama, tempat ini jadi ajang menghafal nama peserta. Konon mas Endra punya masalah dalam hal mengingat nama. Saya yang dalam waktu 3 hari sudah hafal semua nama peserta, jadi guru yang baik baginya. Saya berbisik mendiskripsikan setiap peserta yang ada di sekitar meja makan kami. Itu, yang pintar berwajah manis namanya Bu Riva, yang cerdas dan hidungnya mirip Nikita Mirzani itu Bu Ita, yang anggun itu Bu Sulastri dan Bu Tatik, yang berbunga-bunga itu Bu Sulismi, yang suka kampanye gerakan makan daging dan mimik susu itu Bu dokter Catur, yang berpenampilan gaul itu mas Henry dan Bu Elis, srikandi nan perkasa adalah Bu Ismaning “Yayuk” ayu, yang mirip putri Aiko adalah Ibu Masriah, yang imut-imut itu mas Devi dan Pak Kuncoro dll.  Dengan cara seperti itu mas Endra jadi hafal 40 nama peserta diklatpim 4, selanjutnya terserah dia.

Salah satu hobi saya di meja makan adalah mengambilkan segelas air putih untuk Ibu/Bapak yang duduk di samping saya. Dekat dengan Bu Nurhayati saya ambilkan segelas air putih, begitu pula kalau duduk dekat dekat Bu Dwi, Bu Robingatun dan Bu Tatik. Yang aneh adalah Pak Yoyok, Pak Yitno dan Pak Priyadi suka salah tingkah kalau saya ambilkan air minum. Bapak, ini hanya sekedar perkara segelas air putih, air minum, jadi plis jangan dimaknai lain ya, karena saya sudah ada yang punya. Memang senyum kuberikan kepada semua orang, namun cinta dan amplopku hanya untuk istriku seorang.

Masih tentang konsumsi, yang selalu kulirik adalah aksi Bu Um yang suka ngumpetin tahu atau tempe goreng, dibungkus tisu dan dibawa ke ruang kelas. Begitu peserta diklat asyik berdiskusi, maka Bu Um mulai asyik menthithili tahu gorengnya. Jadi kalau Bpk/Ibu pernah merasa kehabisan lauk pauk, sekarang sudah tahu kemana mengarahkan komplainnya. Ada juga yang kreatif tapi menyenangkan, manakala tangan Bu Siti, Bu Tri, Bu Robingatun menjejalkan snack ke kantung tas saya. Anak-anak saya jadi suka menyambut kedatangan saya. Padahal sebelum-sebelumnya tidak seperti itu.

Sesi favorit lainnya, kita pasti sepakat, senam pukul 5 pagi di hari Selasa dan Kamis. Goyangan Pak Roma dan Mas Fajar bersama mbak instruktur senam yang sempat viral di akun whattshapp, masih tersimpan rapi di galeri HP saya. Maaf, kartu truf kalian berdua ada di tangan saya. Jadi untuk Bapak berdua mesti berfikir dua kali sebelum memutuskan berkonflik dengan saya.

Kegiatan non formal yang disukai peserta adalah karaoke di aula di malam hari. Pak Rosyad sebagai operatornya berperan besar dalam menyukseskan acara ini. Sebut saja artis dadakan kita ada Bu Siti, Mas Fajar, Mbak Ita, Mas Endra, Mbk Osin, Pak Kun, Mas Henry, serta pendatang barunya adalah Pak Soim. Bagi Pak Soim sendiri hal ini adalah lompatan yang luar biasa. Kalau kamis malam biasanya dia rajin membaca salawat nabi, membaca shalawat barzanji, membaca manakib dan istighotsah, kini berganti rajin melafalkan syair lagunya Bunga Cita Lestari dan dangdut koplonya Imam S. Arifin. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah segera memberi petunjuk agar Pak Soim segera menemukan kembali jalan yang benar. Ada lagi dampak dari karaoke ini, ketika saya mengumandangkan adzan di mushalla SKB. Lama-lama suara takbir saya terdengar ada cengkok dangdutnya ! 

Yang menantang bagi kami semua peserta diklatpim adalah implementasi proyek perubahan di breaktrough II laboratorium kepemimpinan. Dan ndelalahnya, implementasi proper jatuh di bulan Bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan pengampunan. Di jam kerja yang pendek selama bulan puasa, kami harus mengerjakan tugas rutin kantor dan sekaligus mengerjakan implementasi proper. Luar biasa ! Dan keberadaan Whatsapp cukup membantu kami untuk menjalin komunikasi dan informasi. Kami memohon maaf kepada Bapak/Ibu WI dan panitia, jika terkadang guyon kami di grup WA agak berlebihan. Jujur tidak ada maksud menyinggung siapapun, itu adalah semata cara kami untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan di 4 bulan pendidikan pelatihan. 

Ada semacam kesepakatan antara saya dengan mbak Ita untuk memanfaat WA sebagai sarana mengobarkan semangat teman-teman mengerjakan proper. Selesai membuat surat undangan sosialisasi, langsung diupload. Selesai membuat draft keputusan kepala dinas di upload, foto pelaksanaan proper di upload, power point diunggah di youtube dll. Ternyata benar, bapak/ibu yang lain menjadi "galau" dan tergugah untuk segera mengerjakan tugas yang sama. Maaf Bpk/Ibu, itulah misi kami yang sebenarnya.

Masalah whatsapp ada yang begitu ekstrim dalam mengirim WA dan bertelepon ria, saya sebut saja namanya Pak Edi. Pagi-pagi buta kirim whatsapp sekedar tanya bab III isinya apa saja. Bahkan tempo hari pukul 1 malam nekad telpon saya, sekedar tanya pertemuan di SKB besok pagi memakai dasi apa tidak. Dan sebaliknya, saya sebut namanya juga, Pak Ismono. Saya menghitung sudah berapa kali saya japri kirim WA ke Bapak Ismono, kirim SMS dan telpon. Tapi tak satupun yang Bapak balas. Pak, sama kirim WA atau SMS itu bukan dalam rangka minta pulsa Pak, saya kirim WA itu untuk menanyakan pertemuan di SKB besok pagi itu memakai dasi apa tidak, soalnya saat ditanya Pak Edi saya tidak bisa menjawab.

Yang ekstrim lagi, adalah saat menjelang lebaran, ketika tradisi mudik juga dilakukan oleh Mas Andri, Bu Elis dan Bu Catur. Lazimnya ketika mudik, yang dibawa pulang kampung itu koper, tapi bapak/ibu malah bawa proper. Yang dijinjing dan di panggul adalah proper. Jadi begitu dibuka, yang ada bukan baju dan celana, tapi milestone lengkap dengan keputusan kepala dinas yang kemarin lusa dikupas tuntas tas tas oleh penguji kelompok 2. 

Di tengah-tengah diklatpim saya pernah dinobatkan sebagai peserta favorit dan disuka banyak teman. Alasannya macam-macam, ada yang berutang budi karena sering saya ambilkan air putih, ada yang bilang karena saya jail, benar saya jail...tapi dibumbui dengan rasa sayang, jadi hasil akhirnya berasa beda dan lebih menggigit. Ada yang bilang karena saya lucu, dan kebanyakan bilang karena saya imut dan tampang bintang drama korea. Saya sendiri merasa alasan yang terakhir yang cocok dan sesuai.  Tapi mungkin juga ada yang karena kasihan, sudah orangnya kecil, rumah jauh Kepung – Grogol 40 km sekali jalan, dan sempat beberapa hari saya sakit di asrama SKB. Sampai  Bu Latifa, Bu Hesti, Bu Elis dan Bu Tri repot mencarikan obat. Dan Pak Yitno repot memijit lengan dan pundak saya. Terima kasih untuk semuanya. Perihal sakit, saya sih mudah-mudah gampang. Begitu dikelonin istri semalaman saja sudah sembuh. Dan itu yang menjadi alasan Pak Soim untuk  tidak menginap di asrama SKB saat saya sakit. Emang gue lelaki apaan ?!

Saya salut dan berempati kepada Bpk/Ibu yang selama pelaksanaan implementasi proper mendapat ujian dan cobaan. Bu Ayu yang ayahnya berpulang, tidak lama kemudian suaminya mengalami kecelakaan, dan bu Ayu sendiri sedang mengalami gangguan usus. Ibu benar-benar luar biasa. Bu Lilik yang bermasalah dengan kakinya, Pak Soim bermasalah dengan lambung dan organ pencernaannya, Bu Elis yang sedang sakit giginya, Pak Budi yang sakit "rahasia". Kalian orang-orang hebat, yang di tengah-tengah gangguan kesehatan, masih mampu mengangkat koper.

Kami mengucapkan selamat khususnya kepada 10 peserta yang terpilih sebagai the best ten, umumnya kepada seluruh peserta diklatpim tingkat 4 angkatan 132 yang telah dinyatakan lulus. Ini adalah keberhasilan bersama.  Dan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bapak Sri Bimo Ariotedjo, bahwa keberhasilan individu harus berdampak kepada sosial masyarakat di sekelilingnya. Keberhasilan individu harus diikuti dengan nilai kemanfaatan pada sesama.
Khairunnas anfauhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.
Keberhasilan peserta diklatpim 4 adalah manakala mampu memberi manfaat bagi peningkatan pelayanan di dinasnya, mampu membawa perubahan ke arah perbaikan sebagaimana amanat implementasi proyek perubahan di tahapan jangka menengah dan jangka panjang. Setidak-tidaknya mampu menjadi contoh bagi yang lainnya untuk terus dan terus melakukan inovasi demi efisiensi dan efektivitas kerja.
Efisiensi dan efektifitas kerja dapat ditingkatkan manakala ada sebuah tim yang saling kerja sama, saling tolong dalam perkara kebaikan untuk mewujudkan visi dan misi organisasi.

Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada :
-       Bapak/Ibu Widya Iswara (Prof Kuncoro, Bpk Ismail, Bpk Chusaini) dari Bandiklat Prov Jatim yang telah mendampingi kami untuk lebih mendalami makna pilar-pilar kebangsaan, mengenali potensi diri, bersama-sama membangun tim yang efektif, serta melakukan koordinasi dan kolaborasi yang berujung pada merancang proyek perubahan. Kami berdoa semoga ilmu yang telah Bpk/Ibu tularkan kepada kami merupakan ilmu yang barakah dan manfaat, yang pahalanya akan terus mengalir bagi Bpk/Ibu sepanjang masa.

-       Terima kasih kepada bapak/ibu pejabat dan staf di Badan Kepegawaian Daerah Kab. Kediri antara lain Bapak Santoso, Pak Agus, Pak J, Mas Yudha dan Mas Puji. Terima kasih atas fasilitasinya selama ini. Kami merasa terpuaskan berada di ruang kelas dan asrama SKP. Mohon maaf jika ada perilaku kami yang kurang berkenan.

Selanjutnya marilah kita senantiasa berdoa kepada Allah agar kita senantiasa dalam lindungan dan anugerah petunjuk-Nya. Amin.

Empat bulan yang menguras energi dan fikiran, telah usai sudah.
Keberhasilan yang telah dicapai, tiada guna kalau berhenti hanya sampai di sini.

Empat bulan yang menguras energi dan fikiran, akan sia-sia belaka.
Manakala hari ini tidak lebih dari hari kemarin, dan hari esok tidak lebih dari hari ini.

Empat bulan kita lalui bersama-sama, dan di sini kita telah menjadi keluarga baru.
Empat bulan kita bersama-sama dalam suasana suka dan duka, dan semoga bersama-sama pula kita di akhirat kelak, disurganya Allah sebagaimana janjinya bagi umatnya yang beriman dan beramal shalih.
Jika ada kesalahan mohon maaf.

By : Arbai Kediri

2 komentar:

Defko mengatakan...

terima kasih.

atas bantuannya selama diklat.

FISIKA - ARBAI mengatakan...

Sama2 mas Def .... saling bantu...biar kompak...